Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

Pamit Sementara

Asinan Bogor, dimulai dari sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan, mohon pamit dari dunia per-blog-an. semua ini dilakukan dengan berat hati, karena kesibukan dan ditambah lagi, dalam waktu dekat akan pindah tugas ke Singkawang, Kalimantan Barat.

Mohon bantuan doa dan dukungan semua teman2, mudah2an di Singkawang nanti segalanya lancar, diberikan kemudahan oleh Allah SWT, dan yang terpenting masih bisa melanjutkan nge-blog lagi, mungkin dengan tajuk yang berbeda.

Terima kasih atas kebersamaannya selama ini, semoga kita masih bisa melanjutkan silaturahim kita.  

July 10, 2007 + Posted in lainnya, Belajar ngaji, Celoteh, Renungan + Comments (2)


Sekedar ngaso!

lama tidak mengelola blog, ditinggalkan merana tanpa konsistensi up-date. semua itu dilakukan bukan tanpa maksud. orang lain mungkin menyebutnya kontemplasi, tapi sesungguhnya tidak sedalam itu, hanya sekedar istirahat, ngaso.

sejatinya nge-blog diharapkan bisa menjadi ajang relaksasi atas kepenatan dan rutinitas sehari-hari. nyatanya nge-blog juga butuh ruang dalam pikiran dan kesempatan lebih untuk mengelolanya, ini yang tidak disiapkan sejak awal.

ngaso, istirahat sejenak, sekedar untuk mengatur napas sambil mengasah kampak kehidupan yang makin tumpul akhirnya menjadi pilihan yang realistis. 

(more…)

March 24, 2007 + Posted in lainnya, Renungan + No Comments »


Lelaki sempurna, lelaki idaman

Perjumpaan dengan seorang sahabat, yang telah terpisah jarak dan waktu sepanjang 10 tahun. Kangen2an, ngobrol panjang-lebar walau hanya ditemani sepiring gorengan dan cengek di sebuah saung lesehan pinggiran situ cipondoh, Tangerang. Awalnya, soal nostalgia masa sekolah dulu, namun pada akhirnya topik pembicaraan menyangkut masalah kehidupan masing2. (more…)

January 4, 2007 + Posted in Celoteh, Renungan + Comments (4)


si-bocah yang bermartabat

Minggu siang di sebuah pusat perbelanjaan, seorang bocah berumur 8 tahunan berjalan ke sebuah gerai Penjual es krim. Karena pendek ia terpaksa memanjat untuk bisa "melihat" si-pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana ingar bingar pusat perbelanjaan yang serba wah dan indah. (more…)

December 20, 2006 + Posted in lainnya, Renungan + No Comments »


Aku kena smack anakku

Sore itu selepas pulang kantor, santai sambil selonjoran nonton berita di TV, tiba2 anakku datang "bi, mek-don bi" sambil memelukku dari belakang, "mek-don apa-an dif?" aku memang gak ngerti apa maksudnya, tapi sejurus kemudian, dia sudah memiting leherku dengan tangan mungilnya dan menjatuhkan dirinya kedepanku seolah-olah hendak menggulatku dengan badan cekingnya.
 
halah….. Aku kaget setengah mati (cuma istilah lo!), anakku baru berumur 2 tahun 3 bulan!, gak pernah nonton mek-don!, lah nonton tv aja dia ngertinya cuma dora…. di keluarga juga gak pernah ngomongin mek-don… lah dari mana dia dapet "teladan baru…"
 
Wabah mek-don rupanya sekelas dengan flu burung, peredaran virus varian kekerasan ini begitu cepat menjalar ditengah kehidupan kita. Sangat berbahaya bagi anak2 yang memang senang meniru dengan gaya khas kekanakkannya, ironisnya tidak cuma tayangannya yang bebas ditonton dilayar TV, tapi mereka juga dengan bebas bin leluasa memainkan game-nya di rental2 PS, juga pernak-pernik dapat dengan mudah mereka temukan (senilai dengan uang jajan mereka!!) di penjual pinggir sekolah mereka.
 
Lantas bagaimana kita menyikapinya?
Yang paling penting, tentunya tayangan varian kekerasan sejenis ini harus ditiadakan. Jauhkan kekerasan dari benak anak kita, mulai dari diri kita (hayo…sadar diri khan?). Ajarkan sportifitas bukan kekerasan (bisa gak yah…..). Alihkan pikiran dan pembicaraan anak kita dan teman2nya dari topik2 kekerasan, buat suasana yang kondusif untuk bermain anak kita dan temannya.
 
duh gusti!, susah juga jadi orang tua, apa mereka para orang tua kita dulu juga susah mendidik kita ….

November 30, 2006 + Posted in lainnya, Renungan + Comments (2)


Mengapa Harus Teriak

Dari Milis IKS semoga menjadi inspirasi buat kita

Satu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya; "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi…" sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara ke duanyapun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu
dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika kamu sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu"

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.

(dikirim oleh yanny irmella) 

November 10, 2006 + Posted in Renungan + No Comments »