Ceng Beng, balik ke Bogor
Lagi sibuk2nya rencana mo inventarisasi dan penilaian aset depag dan polri, nekat aja ngerencanain pulang ke bogor, adif ulang tahun, kasian kalo ditengah keriaan bersama teman2nya, gak ada abi disampingnya. (bukan begitu dif???)
“knapa pulangnya pas lagi tiket mahal sih, mas?” jawaban liana, agen tiket, waktu gw mo booking tiket kmaren. Ya….yang namanya demi anak-istri, gak peduli tiket pesawat mahal, gak peduli waktu pulang cuma beberapa hari, yang penting bisa melepas rindu anak-istri, dan arti kehadiran seorang bokap buat anaknya.
Bicara tiket pesawat yang mahal, keknya dah dari kmaren pas harga minyak ngatrol tinggi, harga tiket ikutan naik, base fare-nya ja gak turun2, puguh fs n tax, bikin pusying. Tapi borneo barat memang lain, banyak even yg juga bisa nyebabin tiket pesawat melambung, salah satunya seperti minggu2 ini, ada acara sembahyang kubur.
Sembahyang kubur adalah salah satu keunikan lain Kota Singkawang, yang notabene banyak etnis tionghoanya. Sembahyang kubur atau sering pula kita denger dengan istilah ceng beng, qing ming, chin ming, bagi warga etnis tionghoa khususnya di singkawang merupakan wujud bakti kepada leluhur dan orang tua yang telah meninggal dunia. Tradisi ini sudah turun temurun tidak hanya di singkawang, tetapi juga di kota lain, seperti bangka-belitung, rokanhilir riau dan palembang. Kalau di tempat lain, termasuk di china, sembahyang kubur ini biasanya dilaksanakan setidaknya sekali dalam setahun, di kalbar dua kali dalam setahun, pada bulan kedua dan ketujuh pada penanggalan china. tradisi ini dilakukan oleh orang tionghoa penganut kepercayaan yang berbeda-beda, yaitu budha, taoisme, maupun konghucu.
Tradisi ziarah, wujud bakti kepada orang tua dan leluhur, bukan hanya milik agama dan kepercayaan tertentu saja, tetapi merupakan kebutuhan batiniah tiap individu, terutama di tradisi ketimuran. Tidak heran bila tradisi ini, mungkin dalam hal ini tradisi ceng beng, bagi warga tionghoa kemanapun ia merantau, dimanapun ia saat ini berada, berusaha datang, kembali ke kampung halamannya untuk berziarah ke makam leluhurnya. Tujuan tradisi ini adalah agar setiap keluarga yang ditinggalkan banyak berbuat kebajikan sehingga tercipta kedamaian, ketenangan dan kesejahteraan hidup
banyaknya warga tionghoa yang pulang kampung ini mungkin kurang lebih mirip warga jawa yang mudik waktu lebaran, sama2 bikin harga tiket melambung. Di kalbar sendiri dah bisa ditebak kapan harga tiket bakalan melambung, imlek, sembahyang kubur, lebaran, lom juga klo liburan kejepit, dah aja sekalian sepanjang tahun harga dilambungkan.
ah…pokoke balik…kangen anak-istri….
NB: mudah2an boss gak tau, klo gw balik…..hehehe…..bisa berabe urusannya, kasian temen2 setim bisa gak berangkat smua klo si boss tau gw balik….keep silent !!! yg penting ke Depag Sambas ….senin, insya Alloh lancar…
August 7, 2008 + Posted in Kotakita +