Terapi Bekam

Kesehatan merupakan aset paling berharga dari hidup manusia. Kita menginginkan selalu dalam keadaan sehat, namun hampir mustahil terwujud. Zat-zat berbahaya bergentayangan ditengah kehidupan kita, mulai dari pencemaran udara, zat pewarna, zat pengawet, penyedap rasa buatan, pemanis buatan, pestisida, dll. Belum lagi gaya hidup zaman sekarang yang banyak makan namun hemat dalam bergerak.

Didorong oleh keinginan untuk fit dan sehat, belum lama ini aku menjalankan terapi pengobatan yang beberapa tahun belakangan ini mulai dikenal luas oleh masyarakat, terapi bekam namanya. Bukan untuk yang pertama, namun sudah kali kedua aku menjalankannya.


Bekam atau Hijamah dalam bahasa arab sebenarnya telah sejak lama kita kenal. Terutama oleh masyarakat jawa yang mengenalnya sebagai kop atau ngekop. Dulu orang tua melakukannya dengan gelas dan kertas berminyak yang dibakar, ketika tubuh dirasa kembung atau masuk angin.

Bekam adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun) yang ada dalam tubuh kita melalui permukaan kulit. Dipercaya telah ada sejak zaman mesir kuno, bekam yang dipraktikkan di Indonesia begitu kental dengan nilai2 islam, tak heran karena bekam merupakan pengobatan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits, diantaranya adalah termuat dalam hadits Shahih al-Bukhari

dari Ibnu Abbas, Beliau berkata: “Kesembuhan ada dalam tiga perkara: meminum madu, berbekam dan bakaran besi. Tetapi aku melarang umatku melakukan pembakaran dengan besi.”

Termuat juga dalam Sunan Ibnu Majah

dari Katsir Ibnu Salim, dia berkata: aku mendengar Anas bin Malik mengatakan: telah berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam “aku tidak melewati orang-orang pada waktu di-isro’kan kecuali mereka mengatakan: Wahai Muhammad, perintahkanlah kepada umatmu untuk berbekam.”

Sepintas, bekam terdengar menyeramkan, karena berbau-bau darah, apalagi dilakukan dengan menyayat kulit. Kenyataannya bekam tidaklah seseram yang dibayangkan. Bekam mengambil darah di dermis (kulit jangat), menurut terapisnya darah yang berada persis di bawah permukaan kulit, bukan yang dari pembuluh darah. Pengambilan darah menggunakan alat yang berbentuk mangkuk (cupping set) yang ditempelkan pada kulit. Bagian tubuh yang merupakan titik bekam terlebih dahulu ‘dilukai’ memakai jarum lancet atau bisa juga pisau cukur atau silet (gak serem khan!?), setelah sebelumnya kulit disedot untuk mengumpulkan darahnya. Dengan pompa penghisap (hand pump), udara dimangkuk kemudian disedot perlahan-lahan. Akibat perbedaan tekanan udara, kulit akan terangkat dan darah akan merembes keluar. Lamanya penghisapan sekitar 3-5 menit, pada kesempatan kali ini dilakukan 2-3 kali penghisapan pada satu titik bekam. Darah yang keluar berwarna merah pekat, dan di beberapa mangkuk terlihat berbuih. Setelah penghisapan selesai, dilakukan relaksasi dengan melumuri daerah sekitar titik bekam dengan minyak (zaitun?) dan dipijat agar darah lancar kembali.

Bekam bila dilakukan dengan benar, khasiatnya langsung terasa, Instan! dan tubuh menjadi terasa ringan!

Dan yang paling penting adalah –ini pesan terapisnya-

  • Asupan makanan harus benar-benar dijaga, karena sabda Nabi:”Perut adalah rumah bagi segala macam penyakit, dan penjagaan atas makanan adalah permulaan pengobatan”
  • Manusia adalah mahluk bergerak, maka banyaklah bergerak!
  • Berjalanlah di jalan yang lurus, karena Allah berfirman: “(Allah) yang menciptakan aku, Dia-lah Yang Memberi Petunjuk kepadaku. Dan yang memberi aku makan dan minum. Jika aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.” [QS.Asy-syu’araa’:78-80] atau “Al-qur’an itu adalah Petunjuk dan Penawar bagi orang-orang yang beriman….” [QS.Fushshilat:44] juga “Hanya dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tentram.” [QS.Al-ahzab:28]
[didedikasikan untuk seorang sahabat yang telah berjuang melawan kanker, sampai akhirnya dipanggil menghadap yang Maha Kuasa. Selamat jalan M.Iswahyudi, semoga Allah SWT menerimamu disisinya, Amin! - Surabaya, Jumat 6 April 2007]

April 7, 2007 + Posted in Celoteh +


2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://grabbani.blogsome.com/2007/04/07/terapi-bekam/trackback/

  1. Aku juga pernah anter ibu ke tempat bekam di Mesra (Mesjid Raya) Bogor, emang prosesnya gak serem kok, cuma ‘nggilani’ aja lihat darah kentel. Tapi, aku masih bertanya2, kalo jarum yang dipake untuk nusuk2 kulit itu sekali pake gak ya? Kalo iya, ya bagus. Tapi kalo gak sekali pake, berarti bekas orang, rentan juga ketularan penyakit lain. Gimana nih pak Cahyo, soalnya aku baru sekali itu ikut yang dibekam.

    Comment by weeween — May 11, 2007 @ 2:22 pm

  2. yang aku tau sih, baik itu menggunakan jarum (lancet) maupun menggunakan silet, mereka menggunakannya sekali pakai, mereka cukup faham koq mengenai hal itu

    Comment by Cahyo — May 11, 2007 @ 3:53 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.