Bayangkan Kota Bogor bakal lumpuh!!
Rencana kunjungan Presiden Bush ke Istana Bogor pada tanggal 20 November 2006 nanti, tak pelak menuai kontroversi. Tak hanya di Bogor, aksi penolakan kehadiran Bush berlangsung di beberapa kota di Tanah air. Akibat ulahnya selama ini yang mengangkangi nilai-nilai kemanusiaan, rasanya aksi masyarakat menolak kehadirannya menjadi suatu yang wajar saja terjadi. Tidak hanya di Indonesia, bahkan seluruh dunia menolak kehadirannya, mungkin saja neraka menolak juga kehadirannya.
Terlepas dari semua itu, kini apa yang terjadi dengan kota Bogor sepuluh hari menjelang hari H?
Semua warga Kota Bogor sedang membayangkan kemacetan lalu lintas dan lumpuhnya kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Mari kita sama2 bayangkan. Penutupan jalan sekitar istana membuat beberapa trayek angkot terpaksa memilih mengandangkan mobilnya. Walaupun disediakan jalur alternatif, seorang polisi pun tidak bisa membayangkan kemacetan yang terjadi di jalur alternatif. Disekitar Istana juga terdapat beberapa sekolah yang dipastikan terkena dampaknya dan terpaksa memilih meliburkan siswanya diantaranya, RP, SMA 1 dan SMP 1 Bogor, disamping itu juga terdapat beberapa sekolah yang terkena dampak tidak langsung seperti BM, SD Polisi, dan beberapa yang lain. Disekitar Istana juga terdapat rumah sakit, yaitu RS Salak yang akses jalan satu-satunya melewati Jl.Sudirman ditutup. Pelayanan umum lainnya yang terganggu, setidaknya secara tidak langsung adalah Kantor Samsat, Pengadilan, Jasa perbankan BUMN maupun Swasta yang berjejer sepanjang Jl.Djuanda, beberapa jasa yang dilayani oleh Kantor Pos Kebun Raya. Aktivitas masyarakat di Pasar Anyar dan Pasar Bogor juga dipastikan terganggu.
Adakah yang sanggup menilai dampak kerugian (dalam rupiah) yang ditimbulkan dari kedatangan Bush ke Bogor yang konon berbajet 6 M?
Pada akhirnya kita dapat membedakan yang bagaimanakah pemimpin yang dicintai rakyatnya dan yang seperti apa pemimpin yang dibenci oleh rakyatnya. Kita pun semakin mafhum, aktivitas seperti apakah yang membuat orang banyak sengsara, merasa dizhalimi dan ditindas. Dan, ….kita semua adalah Pemimpin.
