Puasa adalah perisai
Posting ini diboyong dari ***.blogspot.com
Bulan Ramadhan gak nulis artikel tentang ramadhan rasanya gimannna githu!
terlambat gak sih kalo nulisnya baru sekarang? rasanya masih ada maaf kalo terlambat, masih puasa khan?! Sebenarnya bukan tidak ada keinginan untuk menulis tentang ramadhan, cuma begitu banyak artikel tentang ramadhan dalam bahasan yang hampir mirip, dari yang ringan2 sampai yang telaah mendalam tentang ramadhan. Banyak sisi menarik tentang ramadhan, terutama kewajiban puasa/shoum/saum (apalah namanya…) yang merupakan salah satu rukun islam, yang berarti kalau kita ingin disebut beriman islam, kita harus berpuasa. Kenapa kita diwajibkan berpuasa? Puasa, salah satu ibadah yang tergolong unik, tidak hanya dikenal dalam islam saja, tetapi juga dikenal oleh kalangan non islam bahkan sebelum islam, tentunya dengan berbagai ragam cara dan aturannya masing-masing.
Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa puasa adalah perisai bagi pelakunya.
Maksud dari perisai dalam hadist diatas diumpamakan seperti seseorang yang melindungi diri dengan perisai. Puasa dalam pengertian umum adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum, ini tidak lain adalah upaya diri kita -dengan penuh kesadaran- mengendalikan pikiran dan hati kita dari kecenderungan buruk nafsu duniawi. Bukan menjadi rahasia orang islam saja bahwa puasa dapat menghindarkan orang2 yang melakukannya dari perbuatan2 tercela. Begitulah mungkin kiranya kakek2 kita dulu melakukan ritual tapa, meditasi, atau apalah namanya, dalam rangka menahan diri dari kecenderungan nafsu dunia. Dalam islam pun, agar terhindar dari nafsu syahwat, seorang pemuda dianjurkan untuk berpuasa, begitu pula ketika kita sedang berpuasa sedangkan nafsu amarah menguasai diri, hendaklah kita mengatakan "saya sedang berpuasa" Dari fakta manusiawi diatas kiranya alasan kenapa kita diwajibkan berpuasa, tidak hanya di bulan ramadhan yang mulia ini tentunya.
Dan fakta manusiawi diatas pulalah yang menjawab kenapa redaksi perintah puasa dalam Qur’an adalah "diwajibkan atas kamu ….." bukan "Alloh mewajibkan atas kamu …..", kiranya kita sebagai insan manusia yang berlimpah nafsu dunia harus mewajibkan diri kita sendiri untuk dapat mengendalikan diri dari kecenderungan buruk nafsu duniawi.
Mudah-mudahan puasa kita kali ini dapat menjadikan perisai dan benteng yang kokoh dari kecenderungan kita terhadap nafsu dunia, semua berpulang pada niat dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah puasa.
October 30, 2006 + Posted in Belajar ngaji +
