Puasa Syawwal

Dari Abu Ayyub al Anshari Ra, Rasulullah bersabda:"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nassa-i dan Ibnu Majah)
 
Begitu besar keutamaan berpuasa enam hari di bulan syawwal, bagi orang yang mengetahuinya. Memang berat menjalankannya apalagi kalau memikirkan masih begitu banyak kue2 hidangan silaturahim selepas hari raya yang belum dihabiskan (he..3x), kalau kita terbiasa menjalankan puasa sunah sebenarnya ringan, apalagi puasa enam hari di bulan syawwal ini pelaksanaannya boleh dengan berurutan ataupun terpisah-pisah, boleh langsung setelah hari raya maupun hari lain selama bulan syawwal.
 
Syaikh Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd menjelaskan: "Dalam Hadits ini (yaitu hadits tentang puasa enam hari di bulan syawal), tidak ada nash yang menyebutkan pelaksanaannya secara berurutan ataupun terpisah-pisah. Begitupula, tidak ada nash yang menyatakan pelaksanaannya langsung setelah hari raya."
 
Bagaimana jika masih menanggung puasa ramadhan?, para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini.
Syaikh bin Baz Rah. menetapkan, berdasarkan aturan syari’at mendahulukan puasa qadha ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunah lainnya. Beliau merujuk sabda nabi seperti tersebut diatas, yang berarti barangsiapa yang mengutamakan puasa enam hari dari pada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa ramadhan, baru mengiringkan dengan sebagian puasa ramadhan. Perlu diperhatikan juga bahwa mengqadha puasa hukumnya wajib sementara puasa enam hari hukumnya sunah.
Banyak sekali terjadi ketika seorang wanita yang puasa ramadhannya "gak mulus" mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa enam hari di bulan syawwal. Bayar dulu qadha puasanya baru jalankan yang sunah, begitu mungkin ungkapan yang pas. Inilah mungkin alasan mengapa puasa enam hari dilaksanakannya sepanjang bulan syawwal, setelah hari raya hingga akhir bulan syawwal, boleh langsung setelah hari raya bagi yang tidak punya qadha puasa, boleh secara berurutan, boleh juga terpisah-pisah (alhamdulillah)
 
Mudah-mudahan dapat memotivasi diri kita untuk selalu dekat dengan sunah-sunah Rasulullah.

October 31, 2006 + Posted in Belajar ngaji + No Comments »


Mohon Maaf Lahir & Batin

Living Dangerously

Pohon apa yang banyaknya di hari lebaran, Pohon maaf lahir dan batin (he.. 8x emoticon)

Hari ini, hari pertama masuk kantor, dari pagi tadi hingga siang gini diisi dengan salam-salaman bermaaf-maafan saling memberi maaf dengan diselingi cuap-cuap silaturahim dan tidak lupa juga mencicipi kue lebaran. Aku langsung disibukkan dengan boyongan blog yang ada di blogspot.com yang belum lama ini dirusak orang ke tempatnya yang sekarang di blogsome.com (terima kasih mas Fatchur, atas sarannya)

Bermacam cara dilakukan orang untuk dapat bersilaturahim dan saling memaafkan dihari yang fithri, salah satu caranya dengan memanfaatkan teknologi selular yakni SMS. Hari raya kali ini aku mendapat banyak pesan SMS dari beberapa teman yang karena berbagai alasan tidak punya kesempatan bertemu, ada Suthe dari Makasar yang saban tahun kirim pesan via SMS, Dedi Damhudi yang baru 2 bulan di Surabaya (mudik ke Ciledug gak Ded), Anam di Surabaya (terima kasih telah maafin aku, Cak), Tutut di Yogya, Pak Bowo di Solo, Pak Sulis di Semarang, Sulis YDS di Purwokerto, Ade Setiana di Cirebon (gimana belah durennya emoticon), temen2 di Ciledug (Fitri, Ai, Pur), Ucok di Medan, Dedi di Batam, dan banyak lagi (sori kalo ada yang gak kesebut) terima kasih semua.

Mohon Maaf lahir dan batin  

 

October 30, 2006 + Posted in lainnya + Comments (2)


Zakat Fithri

Posting ini diboyong dari ***.blogspot.com
 
Yang umum orang menyebut zakat fithrah atau fithrah saja, namun yang sebenarnya adalah zakat fithri sebagaimana disebutkan di banyak hadits dan juga karena maknanya yaitu shodaqoh wajib yang ditunaikan karena sebab fithri (berbuka) dari puasa wajib ramadhan

Hukum zakat fithri adalah wajib bagi setiap muslim, Imam Ibnul Mundzir,Rah. mengutip adanya Ijma’ ulama tentang kewajiban zakat fithri ini "Telah bersepakat semua ahli ilmu yang kami menghafal darinya bahwa shodaqoh fithri wajib."



Zakat fithri wajib bagi setiap muslim, kaya atau miskin, yang mampu menunaikannya. Sehingga syarat wajib mengeluarkan zakat fithri ada dua, yaitu Islam dan Mampu. Nabi bersabda: Dari Ibnu Umar Ra, dia berkata: "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu shaa’ kurma atau satu shaa’ gandum. Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki, wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat fithri itu ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (’Id)."
Suami wajib membayar zakat fithri bagi dirinya dan orang-orang yang ditanggung, ini berdasarkan hadits: Dari Ibnu Umar Ra, dia berkata: "Rasulullah SAW telah memerintahkan shodaqoh fithri dari anak kecil dan orang tua, orang merdeka dan budak, dari orang-orang yang kamu tanggung." (Hadits hasan. lihat Irwaul Ghalil, No.835).


Siapakah yang berhak menerima zakat fithri? para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. ada yang berpendapat yang berhak menerima adalah yang delapan golongan sebagaimana zakat maal, ada juga yang berpendapat yang delapan golongan penerima zakat maal, tetapi diutamakan orang-orang miskin, dan ada yang berpendapat yang berhak hanya orang miskin.
Malikiyah berpendapat, shodaqoh fithri diberikan kepada orang merdeka, muslim, yang faqir. Adapun selainnya, seperti orang yang mengurusinya atau menjaganya, maka tidak diberi. Juga tidak diberikan kepada mujahid, tidak diberikan kepada muallaf, tidak juga diberikan kepada ibnu sabil, kecuali jika dia miskin ditempatnya, maka ia diberi karena kemiskinannya.
Insya Allah kita semua mengikuti pendapat yang terakhir ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, wallahu a’lam.

(dikutip dari Majalah As-Sunnah edisi khusus 07 & 08)

+ Posted in Belajar ngaji + No Comments »


Puasa adalah perisai

Posting ini diboyong dari ***.blogspot.com

Bulan Ramadhan gak nulis artikel tentang ramadhan rasanya gimannna githu!
terlambat gak sih kalo nulisnya baru sekarang? rasanya masih ada maaf kalo terlambat, masih puasa khan?! Sebenarnya bukan tidak ada keinginan untuk menulis tentang ramadhan, cuma begitu banyak artikel tentang ramadhan dalam bahasan yang hampir mirip, dari yang ringan2 sampai yang telaah mendalam tentang ramadhan. Banyak sisi menarik tentang ramadhan, terutama kewajiban puasa/shoum/saum (apalah namanya…) yang merupakan salah satu rukun islam, yang berarti kalau kita ingin disebut beriman islam, kita harus berpuasa. Kenapa kita diwajibkan berpuasa? Puasa, salah satu ibadah yang tergolong unik, tidak hanya dikenal dalam islam saja, tetapi juga dikenal oleh kalangan non islam bahkan sebelum islam, tentunya dengan berbagai ragam cara dan aturannya masing-masing.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa puasa adalah perisai bagi pelakunya.
Maksud dari perisai dalam hadist diatas diumpamakan seperti seseorang yang melindungi diri dengan perisai. Puasa dalam pengertian umum adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum, ini tidak lain adalah upaya diri kita -dengan penuh kesadaran- mengendalikan pikiran dan hati kita dari kecenderungan buruk nafsu duniawi. Bukan menjadi rahasia orang islam saja bahwa puasa dapat menghindarkan orang2 yang melakukannya dari perbuatan2 tercela. Begitulah mungkin kiranya kakek2 kita dulu melakukan ritual tapa, meditasi, atau apalah namanya, dalam rangka menahan diri dari kecenderungan nafsu dunia. Dalam islam pun, agar terhindar dari nafsu syahwat, seorang pemuda dianjurkan untuk berpuasa, begitu pula ketika kita sedang berpuasa sedangkan nafsu amarah menguasai diri, hendaklah kita mengatakan "saya sedang berpuasa" Dari fakta manusiawi diatas kiranya alasan kenapa kita diwajibkan berpuasa, tidak hanya di bulan ramadhan yang mulia ini tentunya.
Dan fakta manusiawi diatas pulalah yang menjawab kenapa redaksi perintah puasa dalam Qur’an adalah "diwajibkan atas kamu ….." bukan "Alloh mewajibkan atas kamu …..", kiranya kita sebagai insan manusia yang berlimpah nafsu dunia harus mewajibkan diri kita sendiri untuk dapat mengendalikan diri dari kecenderungan buruk nafsu duniawi.

Mudah-mudahan puasa kita kali ini dapat menjadikan perisai dan benteng yang kokoh dari kecenderungan kita terhadap nafsu dunia, semua berpulang pada niat dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah puasa.

+ Posted in Belajar ngaji + No Comments »


Tip mengatasi bau pete’

Setelah beberapa waktu yang lalu kita mengetahui ada beberapa manfaat pete’ (petai) si bau yang ternyata berkhasiat besar itu, yang walaupun belum dapat dikonfirmasi mengenai kebenarannya, sudah cukup membuat bungah para penggemar pete’ termasuk saya. Tapi bagi mereka yang emang udah dari sono-nya tidak suka pete’ menanggapinya dengan nada sinis. Ada masalah apa sih dengan pete’? hampir semuanya mengeluhkan "baunya itu loh," sebenarnya kita tidak perlu kawatir dengan aroma pete’ yang menyengat naudzubillah kalau kita tahu cara mengatasinya. Kalau yang ini patut anda coba, setelah kita makan pete’ (gak perduli satu biji atau 3-4 papan) minumannya (bukan teh botol sosro, loh!!) segelas teh kental tawar hangat, cukup! Perlu bukti? cobain deh, selamat menikmati.

+ Posted in Celoteh + No Comments »


Bertahan Hidup

Seekor keledai muda bertanya kepada kakeknya, "bagaimana saya bisa tumbuh dan berkembang menjadi dewasa seperti kakek?" "oh, gampang", jawab si kakek, "jangan lupa, yang kamu harus lakukan adalah mengibas-ngibas dan meloncat."
"Apa artinya?" tanya keledai muda penasaran. Sang kakek menjawab, "sekarang dengarkan, kakek akan bercerita .. pada suatu hari ketika kakek masih seusiamu, kakek berjalan-jalan -ngabuburit-. Namun karena tidak hati-hati melihat kedepan, kakek tercebur ke sumur tua, kakek lalu meringkik dalam upaya berteriak dan meminta tolong. Akhirnya ada seorang petani lewat dan melongok ke dalam sumur. Saat itu rasanya aku sudah mau mati. Tapi eh … si petani malah pergi. Terpaksa kakek meringkuk dalam sumur semalaman. Esok harinya si petani datang lagi. Kali ini membawa serombongan orang, mereka bergantian melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Beberapa diantaranya malah tertawa. Lalu patani yang paling tua berkata ’sumur ini kan sudah tak terpakai, lagi pula keledai kecil itu tidak berguna, mari kita timbun saja.’ Seperti dikomando, mereka mulai menimbun sumur dengan sampah, tanah, dan kotoran-kotoran lain. Kakek sangat panik. Bayangkan, aku mau dikubur hidup-hidup! aku harus berbuat sesuatu! Saat itu seonggok demi seonggok sampah menerpa punggung kakek, setiap kali kakek mengibaskan sampah, tanah, dan kotoran itu, kemudian meloncat untuk menginjaknya. Begitu seterusnya, mengibas dan meloncat, mengibas dan meloncat!
"Kakek memerangi rasa takut dengan terus mengibas sampah dan menginjaknya, sehingga lama kelamaan tubuh kakek terangkat naik. Setelah hampir mencapai permukaan sumur kakek meloncat dan lari, selamat!"
"Maka dari itu, bagaimanapun sulitnya kehidupan yang kamu hadapi, sebanyak apapun masalah yang ada di pundakmu, ingat!! singkirkan semua itu dan loncatlah ke depan."
Moral cerita yang ingin disampaikan dari cerita diatas adalah dalam menjalani (atau menjalankan?) kehidupan ini kita tidak akan lepas dari masalah. Masalah itu akan selalu ada bahkan andai kita bisa bersembunyi di lubang semut sekalipun. Yang harus kita lakukan hanyalah menghadapinya dan mencari solusinya. Menghindari masalah hanya akan membuat masalah baru dan makin kian rumit. Yang terbaik adalah "singkirkan semua itu dan loncatlah ke depan"

"semoga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan. amin!"

+ Posted in Renungan + No Comments »